Rabu, 17 Desember 2008

Tertantang untuk Mengasihi

Renungan, I Korintus 13:1-7

Bapak ibu dan saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh berita yang sangat mengenaskan. Berita tersebut adalah pembunuhan berantai. Berita ini mungkin telah menjadi berita yang basi bagi telinga kita, tetapi banyak orang masih ingin mengetahui dan mencari perkembangan berita ini. Suatu aksi pembunuhan yang dilakukan di daerah Jombang, Jawa Timur. Pembunuhan itu dilakukan oleh seorang pemuda tampan yang bernama Ryan. Pemuda tersebut awalnya dikenal secara baik di lingkungan masyarakat sekitar. Banyak orang memandang Ryan sebagai orang yang ramah dan sopan, tetapi kita tidak menduga bahwa Ryan telah melakukan pembunuhan yang sadis dan kejam. Banyak orang mengenal dia hanya dari luar saja atau penampilan fisiknya, tetapi semua orang tidak mengetahui hati Ryan secara mendalam. Kisah Ryan ini membuat adanya asumsi yang mengatakan bahwa zaman sekarang orang telah mengalami degradasi cinta yaitu suatu masa ketika orang merasa “kekeringan cinta atau kekeringan akan kasih”, dimana cinta atau kasih menjadi pudar dan lenyap.

Saudara-saudara, banyak orang bertanya dan mempertanyakan “Apa sih yang membedakan orang Kristen dengan orang lainnya?” Banyak orang yang menjawab,”Kasih”. Tetapi, kasih yang bagaimana? Mengapa kasih menjadi sesuatu yang sangat penting? Sejatinya, Kasih adalah suatu perbuatan empati tanpa syarat kepada musuh kita, empati bagi lawan-lawan politik dan empati bagi lawan hati kita, kasih mampu menembus dunia realistis manusia dan kasih mampu menembus sesuatu yang tidak dapat dipikirkan oleh akal budi manusia.
Pertanyaannya adalah apakah kasih masih berlaku di dalam kehidupan yang modern ini?

Seorang Filsuf dan ateis yang bernama Federich Nietzche pernah mengutuk kasih sebagai perusak dan penghancur peradaban manusia. Dia mengatakan bahwa kasih hanya pantas bagi mereka yang berwatak lemah dan bermental budak. Suatu perbuatan yang gampang menyerah dan manja diperlakukan apa saja tanpa melawan, lembek bagaikan bubur, ringkih seperti daun kering di musim gugur. Padahal, kata Nietche, peradaban hanya mampu bertahan oleh hati setegar baja. Peradaban membutuhkan manusia super berotak tajam, berotot kokoh, berhati teguh, berkemauan keras, tak kenal menyerah, pantang mengalah.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kasih masih tetap menjadi suatu hal yang utama dalam hidup kita? ataukah kasih itu telah pudar? Atau, jangan-jangan konsep tentang kasih tidak relevan lagi di dalam kehidupan ini? Atau juga jangan-jangan kita diperdaya oleh apa yang dinamakan dengan kasih

I Korintus 13:1-7, berbicara tentang kasih. Kasih menjadi hal utama dalam kehidupan jemaat Korintus pada waktu itu. Mengapa kasih menjadi hal yang utama? Sebelumnya, pada pasal 12 tema yang dibicarakan adalah tentang karunia yang rohani. Allah memberi beberapa penyataan Roh Kudus yang ajaib guna memimpin jemaat pada jalan kebenaran. Salah satunya adalah karunia lidah. Inilah karunia yang diiinginkan oleh jemaat Korintus. Apabila ada seseorang yang bisa berbahasa asing (belum pernah dipelajarinya), maka itulah tanda bahwa ia berada di dalam pimpinan Roh Kudus yang langsung dan semua orang akan menghormatinya. Hal ini membuat jemaat Korintus mengalami kesombongan rohani, suatu perbuatan yang memegahkan diri sendiri dan tidak memperhatikan pihak lain. Mereka berlomba-lomba untuk meningkatkan kerohaniannya tetapi tidak mengindahkan yang lain. Selain itu, mereka berpendapat bahwa karunia roh ini, terutama bahasa roh dan karunia menyembuhkan, membuktikan taraf rohani yang lebih tinggi.

Pemahaman tersebut membuat rasul Paulus dengan tegas menolak dan mengatakan pada pasal 13:1-3, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan camang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku”.

Dari sinilah, terlihat bahwa kehidupan di dalam Kristus tidak hanya karena pengetahuan, pandai berbahasa lidah, bernubuat ataupun sesuatu yang spektakuler tetapi yang terutama adalah kasih. Tentunya, kasih bisa dilakukan oleh semua orang karena tidak membutuhkan keterampilan khusus.

Teologi Rasul Paulus ini menunjuk bahwa kasih yang benar itu terwujud pada salib Kristus. Mengapa sejatinya kasih terwujud pada salib Kristus? Karena kematian Kristus di kayu salib merupakan suatu pengorbanan yang luar biasa dan pengornan itu menunjukan bahwa Allah menunjukan kasih-Nya yang sejati kepada manussia. Kasih yang terwujud melalui salib Kristus ini membuat adanya visi yang penting di dalam hidup bersama Kristus. Visi tersebut adalah visi Kristiani tentang orang lain. Suatu tujuan atau pandangan jauh ke depan untuk hidup bersama dengan orang lain. Suatu visi yang memampukan orang untuk mengasihi orang-orang yang tidak pantas untuk dicintai. Inilah yang membuat orang Kristen berbeda dengan yang lainnya. Terkadang, di dalam kehidupan kita ada pribadi yang terluka, menjengkelkan, marah, mengenakan berbagai penampakan dari luar saja, yang terkesan tak pantas untuk dicintai. Akan tetapi ada juga pribadi yang terhormat, penuh perhatian dan cinta. Suatu pribadi yang serupa dengan gambar Tuhan. Pribadi yang diundang keluar dengan kebaikan, cinta dan pengertian. Dari sinilah, kasih yang sebenarnya kita lihat merupakan suatu kasih yang mengubah nasib bukan menerima nasib. Kasih yang mampu memberikan suatu penyerahan diri bukannya menyerah. Kasih yang penuh dengan kelemahlembutan tapi tidak lemah. Kasih yang sebaiknya mengorbankan diri sendiri bila perlu demi kepentingan orang lain dan yang terpenting adalah kasih yang aktif dan tidak pasif.

Saudara sekalian, kasih menjadi sesuatu yang utama dalam hidup bersama Kristus. Biasanya orang mengasihi dengan alasan atau tujuan tertentu alias orang mengasihi karena… atau orang mengasihi supaya… Artinya, kasih dituntut untuk balas budi atau kasih dilakukan dengan motivasi tertentu. Tetapi kasih yang sejati adalah tidak melihat suatu alasan atau tujuan tertentu bahkan kasih merupakan suatu sikap dan cara pandang untuk melakukan sesuatu yang jauh dari kehidupan realistis manusia, misalnya mengasihi musuh-musuh atau lawan-lawan hidup kita.

Bapak, ibu , saudara yang dikasihi Tuhan,
Pada saat ini, kita telah bersama-sama berkumpul dan bersatu hati. Kita yang ada di sini, DPP-SDM, Pemasmur beserta Ibu asrama kita yaitu Ibu Debora, juga tidak lupa Ibu Titik yang senantiasa membantu kebutuhan gizi kita. Persaekutuan ini adalah kesempatan yang begitu indah ini, sepatutnya kita mengucapkan syukur kepada Allah Tuhan Yesus Kristus karena atas pemeliharaan-Nya kita dapat hadir di dalam peresmian rumah tempat tinggal bersama. Kita mengetahui dan merasakan bahwa bapak dan ibu DPP-SDM GKI Sinwil Jatim telah rela dan bersedia datang di Yogyakarta dalam peresmian asrama baru bagi pemasmur. Tentunya tidak lain karena adanya kasih. Jika kita melihat lebih dekat lagi, pengorbanan saudara kita Bang Joni yang telah membantu pengelolaan dan terwujudnya asrama baru ini dan kita mengetahui di tengah kesibukannya membuat tesis. Itu semua tidak lain karena kasih. Saudara Defrita dan Yoses yang bersedia juga mengurusi hal-hal administrasi dan teknis asrama baru ini dan menjadi pemimpin di dalam pemasmur dan berusaha membangkitkan pemasmur menjadi lebih baik lagi. Itu semua tidak lain karena kasih. Juga teman-teman yang lain, kak Ganda, Kak Eta, Kak Nunik, Cik Minlan, Kak Astrid, Michael, Lidya, Christina, Erchia dan Risa, tak lupa teman-teman baru kita Kezia,Caroline, virgo dan kak Risang yang telah bersedia hadir dan turut memikirkan konsep dan hal-hal yang bermanfaat di dalam menempati asrama baru ini, tidak lain karena kasih. Tidak lupa juga ibu Debora dan Ibu Titik yang bersedia membantu, membimbing dan mengarahkan anak-anak pemasmur kedepan menjadi lebih baik. Tentu saja, itu semua karena kasih.

Apakah yang kita rasakan bersama ini adalah kasih yang sejati?
Dari sinilah, akankah manusia menghapus apa yang dinamakan dengan “degradasi kasih atau degradasi cinta” yang hampir mewarnai kanvas hidup kita. Dapatkah kita mengatakan secara bijaksana untuk dapat mengatakan dan menyatakan kasih ketika bertemu dengan orang-orang yang menjengkelkan, marah bahkan tak pantas untuk dicintai.
Suatu pertanyaan refleksi bagi kita, Mungkinkah kalau begitu manusia mengasihi? Jawabannya adalah egoisme manusia membuat kasih yang sejati itu menjadi sesuatu yang mustahil. Selamat Mengasihi. Tuhan Memberkati. Amin.

1 komentar:

Esaol Agustriawan mengatakan...

He..he.. bahan renungan ya? ok deh lama2 main meningkat ya, meski hanya refleksi singkat2. Paling tidak standart dah ada pic n artikel.
sukses!

tabik,
esl